Rabu, 15 November 2017

kontemplasi menjelang akhir tahun

Akhirnya, saya memiliki sedikit waktu sisa untuk menuliskan hasil kontemplasi -- atas banyak hal yang telah terjadi selama hampir sepuluh bulan terakhir. Satu tulisan tentu tak cukup merangkum semua yang saya alami dan jalani. Terlebih jika saya harus menulis secara imbang baik-buruk yang saya rasakan. Tapi semoga tulisan ini menjadi secuil refleksi pribadi, bahwa diri ini telah berjalan jauh, maka sepelik apapun ujian yang kelak berlabuh, saya tak boleh mengeluh.

menjadi istri tidak di negeri sendiri

Menjadi istri bukanlah hal yang sepele. Terlebih jika paham dan sadar pada kewajiban serta tanggung jawab yang dimiliki. Suami saya bukan seorang penuntut, bahkan Beliau selalu mengingatkan saya bahwa kemampuan kita, sebagai manusia, memiliki batas. Kita memang perlu menaikkan ambang batas itu, tetapi mendobrak batas tak selamanya baik.

Sebagai seorang istri, saya ingin mengerjakan semua pekerjaan domestik sendiri. Sebelum menikah, saya berfikir bahwa kelak ketika memiliki asisten rumah tangga, saya tetap ingin menjadi poros di rumah saya. Allah seperti mengabulkan doa tersebut. Saya dan suami terlempar jauh ke negeri kincir angin pada satu tahun pertama pernikahan kami. Praktis saya harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi seorang istri tidak di negeri sendiri? Melelahkan. Tidak ada warung Tegal atau rumah makan Padang disini. Pun jika ada, selangit harganya. Maka praktis saya harus memasak. Beruntungnya, suami cukup piawai membantu saya di dapur. Selain itu, tidak ada tukang sayur keliling. Pasar sayur di tiap daerah hanya digelar satu kali dalam seminggu. Saya tinggal di daerah Overvecht (bagian kecil Provinsi Utrecht). Di daerah ini, pasar pagi digelar setiap Kamis berlokasi di centrum -- istilah untuk pusat perbelanjaan/pertokoan, memiliki lapangan untuk kegiatan seperti pasar dan kermis. Sedangkan di Utrecht Centrum, pasar pagi di gelar setiap hari Rabu dan Sabtu.

Toko-toko di Belanda pada umumnya hanya beroprasi sampai pukul 5 sore. Tetapi setiap centrum memiliki hari-hari tertentu saat toko-toko buka lebih lama. Di Utrecht Centrum, toko-toko buka hingga pukul 8 atau 9 malam pada hari Kamis. Kebijakan ini diterapkan untuk memberi kesempatan berbelanja bagi orang-orang kantor atau pekerja yang mayoritas bekerja sampai pukul 5 sore. Biasanya, saya dan suami memilih hari Kamis untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Kami akan bertemu di tempat parkir sepeda dekat Pathe Rembrandt Bioscoop setelah Beliau pulang dari kampus. Sehabis berbelanja, kami senang bersepeda menghabiskan sore melewati sudut-sudut kota. Suami saya akan bercerita tentang cuaca dan kejadian-kejadian alam yang kami temui. Sedangkan saya akan berceloteh tentang bangunan-bangunan yang kami lihat sepanjang jalan.

Selain memasak dan berbelanja, saya juga harus mencuci dan menyetrika pakaian. Jasa loundry sangat jarang ditemukan disini, pun jika ada, harganya luar biasa mahal, karena orang Belanda umumnya hanya menggunakan jasa ini untuk mencuci jas dan gaun pesta. Berbeda dengan loundry, agen yang menyediakan jasa bersih-bersih rumah cukup mudah ditemukan. Tetapi, biaya untuk membersihkan satu ruang saja bisa mencapai 50 euro atau sekitar 800.000 rupiah, wow! Alhasil, saya dan suami harus bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan rumah kami.

Sebenarnya, bisa saja saya abai pada pekerjaan-pekerjaan tersebut, tapi selalu ada rasa bersalah yang muncul ketika suami pergi ke kampus tanpa membawa bekal makan siang; ketika cucian atau setrikaan menumpuk di keranjang; dan ketika debu dibiarkan di sudut-sudut kamar. Tidak ada peran yang mudah rupanya, ketika kita ingin menjalaninya dengan sebaik mungkin.

halte bus di dekat rumah kami saat musim dingin
Utrecht, Februari 2017
tipikal rumah di sudut-sudut kota
Utrecht, Maret 2017
menikmati makan siang di bawah pohon sakura
Utrecht, April 2017

menjadi pembelajar

Selain menjadi istri, saya juga menjadi seorang pembelajar. Selama empat bulan saya mengikuti kursus bahasa di Babel Taalen -- salah satu lembaga bahasa di Utrecht milik Utrecht University. Saya mengambil English Cambridge Class. Kelas memang hanya dilaksanakan sekali dalam seminggu yaitu pada hari Selasa pukul 8 malam sampai pukul 10 malam, tetapi tugas rumah yang harus dikerjakan luar biasa banyak. Saya menyiasatinya dengan menggunakan hari Minggu, Senin dan Selasa untuk fokus mengerjakan tugas dan belajar. Lalu, apa yang saya kerjakan di hari lain?

Hari-hari lain saya gunakan untuk mengerjakan tugas magang. Saya mendapat kesempatan bergabung pada sebuah proyek riset arsitektur heritage. Tugasnya memang tidak berat dan tidak rumit, tetapi cukup menyita waktu, tipikal pekerjaan di ranah arsitektur. Supervisor saya adalah senior saya di kampus dulu. Beliau sedang menjalani studi doktoral di Utrecht University. Kami memiliki interest yang sama pada bidang arsitektur heritage. Beliau memberi banyak info tentang symposium atau conference seputar arsitektur heritage yang akan berlangsung di Belanda. Beliau juga banyak memberi referensi bacaan pada saya.

Vila Isola Bandung karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker
pada Simposium Kolonial Arsitektur di Arnhem Belanda 

menjadi freelance arsitek

Ini adalah 'jabatan fungsional' yang paling saya suka -- menjadi freelance arsitek. Dulu, saya sempat menolak untuk ikut suami ke Belanda. Alasannya: saya takut tidak memiliki pekerjaan. Empat tahun menjadi mahasiswa arsitektur membuat saya hampir lupa nikmatnya waktu sisa. Terlebih setelah lulus, saya harus mempersiapkan urusan pernikahan sendiri, karena suami berada jauh di negeri seberang. Maka wajar jika perasaan insecure itu muncul. Tapi suami selalu mengingatkan bahwa pekerjaan tidak harus berupa kegiatan yang dibayar dengan uang. Uang hanyalah bonus dari Allah, yang terpenting adalah bekerja dengan ikhlas dan bahagia.

Mungkin ikhlas dan syukur saya tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Allah. Proyek tidak putus datang pada saya. Ada saja rekan atau kerabat yang membutuhkan jasa saya, dari mulai mendesain interior rumah sakit hingga mendesain rumah idaman mereka. Saya tidak mencari mereka, tetapi mereka yang atas petunjuk Allah datang pada saya. Mungkin ini yang orang bilang dijemput rezeki. Walau pendapatannya tidak banyak, tapi rasa puas membantu orang lain itu sungguh tak ternilai harganya.

proyek pertama selama di Belanda, proyek interior rumah sakit
Utrecht, Februari 2017
proyek pertama selama di Belanda, proyek interior rumah sakit
Utrecht, Februari 2017

menjadi bagian dari komunitas muslim Utrecht

Salah satu ketakutan terbesar saya ketika tahu akan tinggal di Eropa adalah: kesulitan menjalankan ibadah sebagai seorang muslim. Tapi ternyata ketakutan tersebut salah besar. Allah selalu punya cara untuk menjaga hamba-hambanya. Saya semakin percaya, mereka yang mendekat pada Allah tak akan pernah terlantar dan terbuang. Hidup di Eropa justru membuat saya semakin mencintai Islam, membuat saya semakin nyaman berada di lingkungan para pencari surga. Mengapa bisa begitu?

Rumah kami terletak sangat dekat dengan 'markas' Stitching Generasi Baru Utrecht (SGB) dan rumah-rumah warga muslim Indonesia lainnya. Setiap hari Rabu pagi, saya mengikuti kegiatan tahsin di rumah salah satu warga. Sedangkan setiap dua minggu sekali, saya mengikuti pengajian di SGB bersama mahasiswa dan warga. Subhanallah, bahkan di negeri ini, banyak orang muslim Indonesia yang ikhlas berdakwah dan berburu dakwah. Maka jika ditanya bagaimana rasanya menjadi muslin di Belanda, jawabannya, 'tergantung mau menjadi muslim yang seperti apa di Belanda?'

Suami saya juga terbilang cukup aktif dalam kepanitiaan kegiatan SGB. Pada musim semi lalu, Beliau menjadi panitia kegiatan Kalami (Kajian Islam Musim Semi). Alhasil, saya ikut membantu menjadi penitia bersama mahasiswa dan ibu-ibu lain. Selain itu, kami juga membantu dalam kepanitiaan Shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha dan Proyek Rumah Surga SGB. Apa itu Proyek Rumah Surga?

Proyek Rumah Surga adalah usaha penggalangan dana untuk membantu kami, mahasiswa dan warga muslim di Utrecht, supaya dapat memiliki masjid kami sendiri. Selama ini, kami hanya menyewa satu ruang kecil bekas minimarket untuk digunakan sebagai mushalla SGB dan Bina Dakwah. Ohya, Bina Dakwah adalah komunitas muslim Indonesia Belanda. Mayoritas anggotanya adalah pasangan muslim Indonesia-Belanda atau anak-anak dari pasangan campuran tersebut. Berbeda dengan kegiatan SGB, kegiatan Bina Dakwah menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar.

foto yang saya ambil untuk campaign Proyek Rumah Surga
Utrecht, April 2017
anak-anak Indonesia dan Indo-Belanda di TPA SGB
Utrecht, April 2017
panitia KALAMI 2017 bersama Ust. Salim A. Fillah
Rotterdam, Mei 2017

menjadi bagian dari persatuan pelajar Indonesia di Utrecht

Dengan status suami saya sebagai pelajar, tentu kami tidak dapat lepas dari kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia di Utrecht (PPIU). Suami saya tahun ini menjadi pengurus PPIU, tergabung dalam divisi keilmuan. Sedangkan saya, bersama mahasiswi dan istri-istri pelajar lain tergabung dalam PPIU Catering. Tugas kami tidak lain adalah memasak. Awalnya, kami hanya memasak untuk konsumsi kegiatan-kegiatan PPIU seperti seminar, kajian keilmuan, rapat kepengurusan dan lain-lain. Kemudian frekuensi memasak kami menjadi intense menjalang diselenggarakannya Utrecht Indonesian Day 2017. PPIU Catering menjadi bagian divisi dana usaha dengan menjual makanan khas Indonesia kepada para pelajar dan warga. Puncaknya, kami membuka Pre-Order untuk menu-menu kue kering Idul Fitri.

Utrecht Indonesian Day 2017 atau disingkat UID2017 adalah salah satu agenda tahunan PPIU. Misinya sederhana: memperkenalkan kebudayaan Indonesia di negeri Belanda dan mengobati rindu warga Indonesia yang telah lama menetap di Belanda. Pada UID2017 ini, saya dan suami mendapat amanah menjadi penanggungjawab (PJ) bazaar kuliner. Tugas kami sederhana, merekrut vendor-vendor yang akan mengisi bazaar kuliner dan menata layout area bazaar. Oleh karena saya seorang arsitek, saya mendapat tugas tambahan untuk membuat denah dan layout seluruh area UID2017. Kepuasan tersesar saya adalah ketika melihat dagangan ibu-ibu vendor laris manis dan mereka pulang dengan senyum bahagia.

PPIU menikmati Festival Bunga Sakura
Amersfoort, April 2017
farewell Felice, semoga foto miring ini mewakili kegilaan pose kami
Utrecht, Mei 2017

menjadi bagian dari group Primadona

Group Primadona adalah group yang saya bentuk bersama teman-teman saya di Utrecht (Mba Putri, Mba Datik, Mba Nisa dan Mba Arti). Group ini sudah berusia hampir satu tahun. Anggota group ini terdiri dari tiga istri mahasiswa dan dua istri warga Indonesia yang bekerja di Utrecht. Nama group ini diambil dari nama belakang salah seorang anggota group: Arti Primadona. Awalnya, group ini terbentuk dari kegemaran kami bermain media sosial Path. Namun saat ini, hanya tiga dari anggota group yang masih menggunakan Path. Saya dan Mba Putri memutuskan untuk menonaktifkan Path kami beberapa bulan lalu.

Saya beruntung bisa berkenalan dengan mereka. Saya banyak belajar dari mereka baik tentang hal-hal umum seputar urusan rumah tangga seperti resep masakan sampai hal-hal khusus seputar tips dan trik hidup berumahtangga di Belanda. Apakah beda berumahtangga di Belanda dan di Indonesia? Mungkin banyak hal tidak berbeda, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa disamakan terutama perihal mengantisipasi biaya hidup yang sangat mahal dan minimnya ketersediaan bahan makanan untuk masakan khas Indonesia. Mereka juga teman belanja dan main idola saya. Selain mereka berempat, saya juga dekat dengan mahasiswa, istri mahasiswa dan warga Indonesia lainnya. Mereka mengajari saya banyak hal mulai dari demo membuat cheesecake (Mba Ari) sampai cara membuat donat kentang (Mba Tiana). Mba Ross banyak mengajari saya cara berlibur yang minim biaya. Mba Lian menjadi teman diskusi idola saya. Saya merasa beruntung dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.

cikal bakal Group Primadona
Den Haag, Mei 2017
group Primadona dan ibu-ibu SGB pada bazaar Idul Fitri
Utrecht, Juni 2017

***
Mungkin tidak banyak peran yang saya emban selama di Belanda. Tetapi saya mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Bisa saja saya abai pada tanggung jawab sekunder saya di lingkungan sosial. Tetapi mengutip kalimat Goenawan Mohamad, "kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial". Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat?

hadiah dari Nasyifa dan Siraj saat KALAMI 2017
Rotterdam, Mei 2017
hadiah Idul Fitri dari Afina
Utrecht, Juni 2017

Selasa, 14 November 2017

Between Andy Lau; Chasing the Dragon; and Vancouver

1. Andy Lau

Two days ago, after I finished my work in Yogyakarta, my cousin and I decided to go to a cinema. Actually, we had no idea what we were going to watch.  Luckily, they had one of Andy Lau's movie on the schedule -- Chasing the Dragon. This is Andy Lau's first movie after he has recovered from his injury. I have to admit that his age has nothing to do with his charm. This 56 years old actor always knows how to captivate his audiences. That was the reason why my cousin and I finally decided to watch this movie.

Actually, Chasing the Dragon is not a one-man show movie. Still, there is a central man in the storyline. Unfortunately, the main character is not Andy Lau (play Lee Rock) but Donnie Yen (play Ng Sik Ho). Well, Donnie Yen is a good actor also. He is known for his role as Wing Chung grandmaster in Ip Man movie (2008; 2010; 2015). By taking a role as a gangster in this movie (which is completely different from his associated character), he profoundly proves that he is such a talented and prominent actor.

2. Chasing the Dragon

Chasing the Dragon doesn't seem like a sequel to the previous movie about Lee Rock and Ng Sik Ho -- To Be Number One. Yet, those movies have a correlation since they talked about the same godfathers of Hong Kong drugs market in the early 19th century. To Be Number One was a successful movie in the late 19th century. The actors and the movie itself won several nominations in 11th Hong Kong Film Awards. This is such a big challenge for the actors and the directors who participated in the production of Chasing the Dragon movie.

Chasing the Dragon movie is about the rise and fall of Ng Sik Ho, an illegal immigrant from China who joined the drugs-trafficking realm, and Lee Rock, a corrupt sergeant who allied with Ng Sik Ho, before Hong Kong's Independent Commission Against Corruption (ICAC) was found. Ho and Rock are criminal and anti-hero both in the movie and in the history. But, the movie doesn't judge them sharply. The movie more focuses on the moral values and the relationship amongst the characters.

Ng Sik Ho is portrayed as a good fighter and loyal friend. He always tries to protect his family. Also, he always keeps his promise, no matter how risky it is. Meanwhile, Lee Rock is portrayed as a brilliant sergeant. He always plays his tricks smoothly and shows his emotion rarely. From my point of view, the director is willing to change audience's perspective toward Ng Sik Ho and Lee Rock -- from depraved criminals into people who hold local values and attitudes for instance loyalty and hardworking. As we know that Hong Kong was under British rule until the 1990s. Maybe that is why British police play an antagonist role in this movie.

3. Vancouver

Andy Lau's charm simply led me to watch Chasing the Dragon movie. Then, they led me to write a review on my blog. But, what led me to put Vancouver in the title of this post? That is a little bit complicated. The following paragraphs contain spoiler issues. Be careful.

In the end of the movie, we will see a scene of old Lee Rock watching a news about Ng Sik Ho on television. The setting is in Vancouver, Canada. Before that scene, I told my cousin that the movie reminded me of a documentary movie which I watched 4 months ago. It tells about Chinese millionaire community in Vancouver, Canada. The narrator said that most of those people are corruptors (and their family) who run off after the establishment of law enforcement toward corruption in China. After I watched that documentary movie, a question remained; what was their lucrative business to fool their country?

I am sorry because I didn't make an advanced research on this issue. Maybe Lee Rock is one of the millionaires who has been mentioned in that documentary movie, or maybe he is not. Well, Lee Rock is from Hong Kong, not from China, but most people from outside those countries can't really explain the differences between Chinese, Hong Kong, Taiwan, and Macau people. I simply understand how the exodus of Chinese people has brought a lot of changes in Vancouver and other places. That's how a global world works, right?


NB:
If you are big fans of Andy Lau, you have to give this movie a try because, in this movie, Andy Lau is still so handsome, charming and gentle, yet a little bit evil. However, this movie can heal your longing for his acting.

Jumat, 20 Oktober 2017

a bunch of lovely picture #8 Prague, Budapest and Vienna

Because Ed Sheeran never fails me!
And darling I will be loving you 'til we're 70. And baby my heart could still fall as hard at 23. And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways. Maybe just the touch of a hand. Oh me I fall in love with you every single day. And I just wanna tell you I am. So honey now, take me into your loving arms. Kiss me under the light of a thousand stars. Place your head on my beating heart. I'm thinking out loud. Maybe we found love right where we are. When my hair's all but gone and my memory fades. And the crowds don't remember my name. When my hands don't play the strings the same way, mm. I know you will still love me the same. (Thinking Out Loud -- Ed Sheeran)
I found a woman, stronger than anyone I know. She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home. I found a love, to carry more than just my secrets. To carry love, to carry children of our own. We are still kids, but we're so in love. Fighting against all odds. I know we'll be alright this time. Darling, just hold my hand. Be my girl, I'll be your man. I see my future in your eyes. Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms. Barefoot on the grass, listening to our favorite song. When I saw you in that dress, looking so beautiful. I don't deserve this, darling, you look perfect tonight. (Perfect -- Ed Sheeran) 

Fisherman's Bastion - Budapest, August 2017
taken by Canon 550D

Somewhere in Prague, August 2017
taken by Canon 550D

Charles Bridge - Prague, August 2017
taken by Canon 550D

Fisherman's Bastion - Budapest, August 2017
taken by Canon 550D

Velkoprevorske Namesti - Prague, August 2017
taken by Canon 550D

Danube River - Budapest, August 2017
taken by Canon 550D

Somewhere in Vienna, August 2017
taken by Nikon FM2

Parliament Building - Vienna, August 2017
taken by Nikon FM2

Somewhere in Vienna, August 2017
taken by Nikon FM2