Rabu, 13 Desember 2017

Spiritualitas Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka

Rasanya sangat terlambat memang menulis tentang Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan di penghujung tahun 2017. Sedang karya ini telah beredar selama 13 tahun, diterjemahkan dalam 28 bahasa, dan dikupas pada ratusan artikel nasional maupun internasional. Stempel merah bertuliskan national best seller pada sambul buku ini bukanlah daya tarik utamanya, setidaknya bagi saya. Justru perjumpaan dengan buku ini di toko-toko buku di Eropa-lah yang sukses menggoda saya untuk coba membaca. Akhirnya, artikel ini saya tulis setelah moksa dari jatuh-bangun menyelami spiritualitas Eka Kurniawan dalan Cantik itu Luka.

Wanita sebagai tokoh sentral

Setelah berabad dianggap tabu dan saru, dewasa ini, bahasan tentang wanita menjadi begitu molek di telinga. Sebab, segala tentang wanita tak hanya sekedar cantik menawan, tapi juga menyimpan luka perjuangan. Tak heran jika Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan -- dengan wanita-wanita 'cantik' sebagai tokoh sentral cerita, begitu menggugah kuriositas pembaca. Terlebih, penulis dengan berani menjadikan semesta pramunikmat sebagai latar.

Dalam buku ini, pramunikmat tak digambarkan binal dan liar. Dewi Ayu sebagai primadona rumah bordil Mama Kalong justru mampu merepresantikan kualitas seorang wanita Jawa -- yang menurut Soekarno (dalam buku berjudul Sarinah) disebut sebagai wanita idam-idaman para lelaki, yaitu wanita yang: "awake koyo putri, antenge koyo putri". Menariknya, darah Belanda Dewi Ayu mewariskan karakter tegas, tangkas dan tangguh pada dirinya. Sudah bukan rahasia bahwa idiosinkrasi tersebut telah dipuja puluhan tahun oleh kaum feminis. Maka, baik dari kacamata pria maupun wanita, Dewi Ayu serta sederet tokoh wanita lain dalam buku ini tidaklah cacat, tapi justru memikat.

Cantik itu Luka tidak hanya mengungkap sisi gelap-terang lahir-batin wanita, tapi juga dengan adil menelanjangi pikiran purba para pria, pun mendedahkan setiap titik lemah dan rapuhnya. Menegaskan kembali bahwa: kecantikan seorang wanita adalah kemewahan hidup seorang pria -- pun dapat menjadi malapetaka di hidup wanita itu. Eka Kurniawan dengan gamblang menulis: "Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin". Senada dengan tulisan F. Scott Fitzgerald dalam bukunya yang berjudul The Great Gatsby: "I'm glad it's a girl, and I hope she'll be a fool, that's the best thing a girl can be in this world, a beautiful little fool".

Sejarah kemerdekaan dan 'konflik' PKI sebagai latar

Laksmi Pamundjak (dengan Amba) dan Eka Kurniawan (dengan Cantik itu Luka) digadang sebagai penerus Sang Legenda Sastra Indonesia -- Pramoedya Ananta Toer. Pasalnya, kedua penulis tersebut padu menetaskan karya dengan latar belakang sejarah kemerdekaan dan 'konflik' PKI -- seperti Tetralogi Buruh karya Pramoedya. Walau memiliki gimmick berbeda, tetapi lini waktu yang dijajaki serupa, jika tidak boleh dibilang sama. Namun, berbeda dengan Pramoedya yang terjerumus langsung dalam peliknya masa kemerdekaan, Laksmi Pamundjak dan Eka Kurniawan tidaklah mengecap pun setetes pahitnya situasi tersebut. Maka, kecakapan mereka dalam menyusun puing-puing sejarah menjadi konstelasi laras inilah yang kemudian mendapat apresiasi akbar.

Benar, bahwa penulis wajib melakukan riset perihal bab yang akan ditulisnya. Tulisan yang lekang lahir tidak hanya dari sekedar permainan kata, pemilihan diksi atau penyusunan rima. Terdapat sesuatu yang lebih fundamental yaitu ingatan. Menulis nyatanya bukan hanya soal membentuk latar atau memberi gambaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha mewariskan ingatan. Ingatan dari yang sudah pada yang sekarang; ingatan dari yang sekarang pada yang akan.

Cinta dan bercinta sebagai spiritualitas fana

Secara sarkasme, bercinta dapat dikatakan sebagai verba baku dalam buku Cantik itu Luka. Segala padan kata bercinta dapat ditemukan dalam buku ini: mulai dari malam pertama, bulan madu, menggauli, meniduri hingga memerkosa dan mencabuli. Seorang pembaca pada situs Goodreads bahkan berkomentar: 'seandainya buku macam ini ditulis oleh seorang ingusan, bukan Eka Kurniawan dan diterbitkan oleh sebuah penerbit kencur, bukan Gramedia, apakah masyarakat tetap akan menerimanya dengan cuma-cuma?'

Secara pribadi, saya berkeyakinan bahwa ada tafsir lain dari 'cinta dan bercinta' dalam tulisan Eka Kurniawan ini. Toh, seperti berdoa tanpa iman, bercinta tanpa cinta dalam semesta Cantik itu Luka tak dapat membuahkan keturunan pada rahim Alamanda -- hanya angin dan angin saja. Cinta rupanya masih menjadi sesuatu yang sakral, karena: "Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila" -- tulis Eka Kurniawan. Mungkin, 'cinta dan bercinta' dalam Cantik itu Luka sama kudusnya seperti dalam Serat Centhini. Sebab kepiawaian Dewi Ayu dan Alamanda bercerita sebelum bercinta mengingatkan saya pada potongan adegan dalam buku Centhini karya Elizabeth D. Inandiak:
"Ketika ia hendak melarikan diri sebelum subuh pergi ke Ponorogo, Nyai Demang menahannya dengan cerita baru, dan cerita lainnya lagi, siang dan malam, semakin ngawur. Kata mengecup raga, raga menghirup kata, berupaya kembali ke hulunya dalam renang tiada akhir."
'Puasa' lima tahun yang dilakukan Maman Gendeng demi Adinda juga sekeadaan dengan kisah 'Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan' dalam buku Centhini. Bertutur tentang Amongraga dan Tambangraras yang harus melewati sekian malam penuh harap dan panjat pada Yang Maha Cinta sebelum akhirnya: "mereka merasa makin lebur menyatu tubuh, mereka saling menjadi yang lain, suara mereka pun mengalir yang satu dalam yang lain".

Pengembaraan tokoh-tokoh Cantik itu Luka di belantara dunia yang dursila nyatanya mampu membawa mereka pada baka yang mulia -- seperti Cebolang dalam Centhini, seperti Diva dalam Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (karya Dewi Lestari). Mereka boleh memperdagangkan bahkan mengumbar segala yang fana, tapi bagi Diva: "Pikiran saya harus dibuat merdeka". Bagi mereka, dunia hanya mampu membeli raga, bukan jiwa.

***

Pada akhirnya, Eka Kurniawan melalui Dewi Ayu mengajarkan saya bahwa:
"Kecemasan datang dari ketidaktahuan. Menolak sesuatu yang tak bisa ditolak adalah hal yang lebih menyakitkan dari apa pun." -- "Worry comes from ignorance. Fighting against the inevitable hurts worse than anything else."

Senin, 20 November 2017

Kartini dalam karya: Pramoedya Ananta Toer, Hanung Bramantyo, dan Sjuman Djaya

Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden pertama RI -- Ir. Soekarno, mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 yang menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Tidak hanya itu, hari lahir Kartini -- 21 April, juga ditetapkan sebagai hari besar nasional yaitu Hari Kartini. Siapa Kartini dan apa sumbangsih yang telah dia berikan pada Indonesia menjadi sebuah pertanyaan besar dalam diri saya. Sempat menolak memperingati Hari Kartini, rupanya justru menyeret saya pada keingintahuan besar perihal sepak-terjang Raden Ajeng yang meninggal di usia 25 tahun ini.

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya pernah coba membaca biografi Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul 'Panggil Aku Kartini Saja'. Sayangnya, nalar saya belum cukup progresif untuk memahami karya sastra platonik tersebut. Bertahun membiarkan buku itu usang, saya tergelitik membacanya kembali paska menonton film 'Kartini' karya Hanung Bramantyo dan film 'R.A. Kartini' karya Sjuman Djaya.

Kartini karya Sjuman Djaya

Film 'R.A. Kartini' karya Sjuman Djaya sejatinya adalah sebuah karya yang indah. Secara subjektif, saya memiliki kekaguman tersendiri pada sutradara gigih ini -- yang terkenal lewat karyanya 'Si Doel Anak Betawi'. Kecintaan saya bermula ketika saya membaca buku 'Aku'. Buku tersebut awalnya disusun sebagai skenario film berdasarkan perjalanan hidup Chairil Anwar, namun gagal diangkat ke layar lebar. Beruntungnya, Rendra sebagai sejawat Sjuman Djaya dalam dunia seni berhasil menerbitkan tulisan tersebut dalam bentuk buku.
"Biarkan aku sendiri, Ibu," katanya kepada Ibunya. "Yang ini bukan apa-apa, karena aku tahu, aku masih akan menghadapi gelombang dan badai yang seribu kali lebih besar. Dan mungkin...sejuta kali juga lebih sunyi!"
(Aku -- Sjuman Djaya)
Sjuman Djaya memiliki kepiawaian dalam membuat skenario yang puitis. Bahkan pesan dan nilai yang terkandung dalam percakapan para tokohnya tidak lekang dimakan zaman. Contohnya ketika Kardinah dan Roekmini ragu dapat memperoleh ijin untuk memamerkan kerajian tangan Jepara di Belanda. Kartini menjawab, "Tidak! Seseorang mesti mulai. Bangunlah dari tidurmu yang pulas untuk membela hakmu, juga hak untuk bersaing dengan bangsa apapun." Jika ditarik pada kondisi bangsa dan negara saat ini, tentu pesan dari nukilan tersebut masih sangat relevan. Bangsa Indonesia masih belum seluruhnya bangun. Rakyat belum semuanya terusik untuk maju.

Melalui film 'R.A. Kartini', dapat dipahami bahwa Sjuman Djaya bukanlah seniman yang abai pada sejarah. Filmnya tidak hanya menuturkan drama hidup Kartini, tetapi juga menampilkan fragmen sejarah Indonesia pada masa itu. Kartini sebagai tokoh sentral tidak selalu menjadi lakon utama pada setiap adegan. Ada juga adegan yang membahas kondisi Indonesia dan kondisi orang-orang di sekitar Kartini.

Film 'R.A. Kartini' memang memiliki kesan statis dan lambat. Banyak momen-momen krusial yang hadir namun ditekan gejolaknya hingga tidak menimbulkan keriuhan berarti. Pun jika terjadi lonjakan hebat dalam diri Kartini, hanya disampaikan melalui monolog hatinya saja. Gambaran hubungan yang khidmat antara orang-tua dan anak sangat kentara dalam pergaulan Kartini dengan ayahnya -- Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Dibandingkan dengan film 'Kartini' karya Hanung Bramantyo, film 'R.A. Kartini' lebih saklek menggambarkan suasana di balik tembok para priyayi. Contohnya ketika adik Kartini -- Kardinah, dipersunting oleh Raden Mas Haryono, putra Bupati Tegal. Tidak seperti Kartini dalam film Hanung Bramantyo yang meninggalkan acara pernikahan adiknya dan menangis penuh pilu di belakang rumah. Kartini dalam karya Sjuman Djaya memilih memasung rasa pilu yang dia rasakan dalam kesunyian batinnya.

Kartini karya Hanung Bramantyo

Film 'Kartini' karya Hanung Bramantyo memang lebih mudah dipahami oleh generasi masa kini. Luapan ide dan emosi yang Kartini miliki dan rasakan jauh lebih kentara dalam setiap segmentasi film. Dian Sastrowardoyo -- sebagai pemeran Kartini, membawakan setiap dialog dengan tegas dan lugas. Bandingkan dengan Kartini versi Yenny Rachman yang terlewat santun dan lemah lembut dalam berdialog. Hanung Bramantyo menggambarkan Kartini sebagai sosok wanita 'merdeka' yang dijerat rantai besi feodalisme. Di film ini, Kartini menjadi lakon yang vokal bahkan sejak awal adegan.

Jika dibandingkan dengan Sjuman Djaya, Hanung Bramantyo memang telah lebih banyak memproduksi film-film biografi tokoh nasional seperti 'JK' (film pendek), 'Sang Pencerah', 'Soekarno: Indonesia Merdeka', dan 'Rudy Habibie'. Tidak heran jika film 'Kartini' karyanya sukses meraih banyak pujian. Terlebih atas kesuksesan Hanung Bramantyo dalam menghadirkan sisi lain dari kehidupan Kartini yang penuh semangat dan jalak. Sekali lagi, sosok Kartini inilah yang sepertinya lebih dapat dihayati oleh generasi muda sebagai seorang Pahlawan Nasional. Bukan lagi Kartini yang dikebiri adat dan feodalisme, tetapi Kartini yang penuh dengan sepak terjang nyata. Kartini yang progresif.

Banyak fakta sejarah [baru] yang diungkap dalam film 'Kartini' karya Hanung Bramantyo, contohnya adalah fakta bahwa salah satu karya Kartini pernah diterbitkan atas nama ayahnya -- R.M. Adipati Ario Sosroningrat, untuk menghindari pandangan negatif pada Kartini dari golongan priyayi maupun pejabat. Karya tersebut adalah karangan antropologi tentang adat perkawinan golongan Koja di Jepara berjudul 'Het Huwelijk bij de Kodja's' yang diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Ne-Indie. Selain itu juga dihadirkan momen-momen tak terduga seperti ketika Kartini dan dua saudaranya -- Kardinah dan Roekmini, datang ke Batavia. Mereka mengenakan kebaya sutra putih dan sarung batik karya tangan mereka sendiri. Hal tersebut sudah tentu menuai banyak pujian dari petinggi-petinggi Belanda yang turut hadir. Sayangnya, para pejabat pribumi tidak menganggapnya sebagai kebanggaan, melainkan kemunduran yang mencoreng mertabat seorang priyayi.

Sebuah pertanyaan pasti akan muncul dalam benak penonton, terutama yang tidak memiliki landasan pengetahuan cukup tentang sejarah hidup R.A. Kartini. Apakah kebaruan-kebaruan tersebut benar? Jika benar, apa yang menjadi sumber sejarah dari fragmen-fragmen tersebut?

Kartini karya Pramoedya Ananta Toer

Buku 'Panggil Aku Kartini Saja' karya Pramoedya Ananta Toer merupakan referensi sejarah yang ringan tentang perjalanan hidup R.A. Kartini. Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang terbagi lagi menjadi 55 bahasan. Bagian pertama memberi Ancang-ancang Kesejarahan sebagai landasan pemahaman bagi para pembaca tentang kondisi negeri yang tengah digeluti Kartini, sedangkan bagian akhir menjabarkan Sedikit tentang Kondisi Kejiwaan Kartini -- sebagai pelengkap gambaran lahir-batin Kartini.

Karya Pram [tentang Kartini] ini sejatinya terdiri dari empat jilid. Namun karena huru-hara 1965, jilid tiga dan jilid empat telah musnah oleh vandalisme berkedok stabilitas nasional. Beruntung, dua jilid yang selamat dapat lahir kembali menjadi sebuah buku berjudul 'Panggil Aku Kartini Saja' dari rahim Lentera Dipantara. Buku inilah yang memberi sumbangsih besar pada karya Hanung Bramantyo. Terbukti dari salah satu adegan dimana Dian Sastro -- sebagai Kartini, berkata, "panggil aku Kartini saja".

'Panggil Aku Kartini Saja' memiliki magi kuat untuk melunturkan sikap apatis terhadap Raden Ajeng Kartini -- pahlawan Indonesia yang berjuang dengan pena dan kertas. Bakat berkarib dengan tinta tersebut rupanya juga dimiliki Sosrokartono -- kakak laki-laki Kartini, yang menjadi jurnalis Perang Dunia 1. Darah terpelajar itu diwarisi Kartini dari kakeknya -- Pangeran Ario Tjondronegoro, yang tak pernah gentar mendorong anak-anaknya giat menggali ilmu. Hasilnya, ayah dan paman Kartini menjadi segelintir pejabat pribumi yang cakap berbahasa Belanda serta melek aksara dan sastra.

Buku 'Panggil Aku Kartini Saja' dengan serakah telah merangkum pemikiran, gagasan dan ide-ide yang dimiliki Kartini semasa hidupnya. Potongan-potongan surat, buku harian dan artikel yang Pramoedya sajikan dalam buku tersebut banyak memberi gambaran tentang siapakah R.A. Kartini, bagaimana kiprah kepahlawanannya dan mengapa sosok belia itu dapat menjadi sangat masyhur baik di Indonesia maupun di mancanegara.

Buku ini nyatanya tetap menjadi primadona diantara tiga karya lain tentang Kartini. Walau memang tidak adil jika membandingkan antara film berdurasi satu-dua jam dengan buku lebih dari 300 halaman. Namun, perbandingan ini kiranya dapat mengusik generasi muda, yang sudah kepalang akut kemunduran minat bacanya. Padahal, baik Kartini maupun Pramoedya dapat merdeka dalam penjara karena membaca, karena tiada pernah jemu terhadap buku-buku dan sastra.
"Maka ia raih buku-buku, dan menyelamatkan hatinya di dalam dunia pustaka. Seperti dengan sendirinya ia tinggalkan dunia kenyataan dan memasuki dunia intelektual atau lebih tepat dikatakan memasuki dunia gagasan, idea, dan ideal dengan garis-garus yang lebih jelas dan nyata daripada di dalam kehidupan biasa (sehari-hari)."
( Panggil Aku Kartini Saja - Pramoedya Ananta Toer)

***
Satu cuplikan dalam buku 'Panggil Aku Kartini Saja' karya Pramoedya Ananta Toer menegaskan kembali posisi Kartini pada sejarah perkembangan Indonesia:
"Kartini telah merupakan obor dengan minyak pengetahuan dan pemikiran yang lebih masak dengan oktan yang lebih tinggi. Ia bukan lagi kunang-kunang itu tetapi telah menjadi obor, dengan teratur dan teliti serta terperinci menerangi kelilingnya, mendasari kehidupan baru dengan falsafah, dengan kekuatan moral yang bersumberkan kecintaan pada sesama manusia, pada kewajiban, pada negeri, bangsa, dan Rakyatnya. Dengan obor itu ia terangi jalan yang menuju pada kemerdekaan, pada kebesaran bangsa dan negerinya di kemudian hari."
( Panggil Aku Kartini Saja - Pramoedya Ananta Toer)





Selamat Hari Kartini [yang tertunda]. 

Rabu, 15 November 2017

kontemplasi menjelang akhir tahun

Akhirnya, saya memiliki sedikit waktu sisa untuk menuliskan hasil kontemplasi -- atas banyak hal yang telah terjadi selama hampir sepuluh bulan terakhir. Satu tulisan tentu tak cukup merangkum semua yang saya alami dan jalani. Terlebih jika saya harus menulis secara imbang baik-buruk yang saya rasakan. Tapi semoga tulisan ini menjadi secuil refleksi pribadi, bahwa diri ini telah berjalan jauh, maka sepelik apapun ujian yang kelak berlabuh, saya tak boleh mengeluh.

menjadi istri tidak di negeri sendiri

Menjadi istri bukanlah hal yang sepele. Terlebih jika paham dan sadar pada kewajiban serta tanggung jawab yang dimiliki. Suami saya bukan seorang penuntut, bahkan Beliau selalu mengingatkan saya bahwa kemampuan kita, sebagai manusia, memiliki batas. Kita memang perlu menaikkan ambang batas itu, tetapi mendobrak batas tak selamanya baik.

Sebagai seorang istri, saya ingin mengerjakan semua pekerjaan domestik sendiri. Sebelum menikah, saya berfikir bahwa kelak ketika memiliki asisten rumah tangga, saya tetap ingin menjadi poros di rumah saya. Allah seperti mengabulkan doa tersebut. Saya dan suami terlempar jauh ke negeri kincir angin pada satu tahun pertama pernikahan kami. Praktis saya harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi seorang istri tidak di negeri sendiri? Melelahkan. Tidak ada warung Tegal atau rumah makan Padang disini. Pun jika ada, selangit harganya. Maka praktis saya harus memasak. Beruntungnya, suami cukup piawai membantu saya di dapur. Selain itu, tidak ada tukang sayur keliling. Pasar sayur di tiap daerah hanya digelar satu kali dalam seminggu. Saya tinggal di daerah Overvecht (bagian kecil Provinsi Utrecht). Di daerah ini, pasar pagi digelar setiap Kamis berlokasi di centrum -- istilah untuk pusat perbelanjaan/pertokoan, memiliki lapangan untuk kegiatan seperti pasar dan kermis. Sedangkan di Utrecht Centrum, pasar pagi di gelar setiap hari Rabu dan Sabtu.

Toko-toko di Belanda pada umumnya hanya beroprasi sampai pukul 5 sore. Tetapi setiap centrum memiliki hari-hari tertentu saat toko-toko buka lebih lama. Di Utrecht Centrum, toko-toko buka hingga pukul 8 atau 9 malam pada hari Kamis. Kebijakan ini diterapkan untuk memberi kesempatan berbelanja bagi orang-orang kantor atau pekerja yang mayoritas bekerja sampai pukul 5 sore. Biasanya, saya dan suami memilih hari Kamis untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Kami akan bertemu di tempat parkir sepeda dekat Pathe Rembrandt Bioscoop setelah Beliau pulang dari kampus. Sehabis berbelanja, kami senang bersepeda menghabiskan sore melewati sudut-sudut kota. Suami saya akan bercerita tentang cuaca dan kejadian-kejadian alam yang kami temui. Sedangkan saya akan berceloteh tentang bangunan-bangunan yang kami lihat sepanjang jalan.

Selain memasak dan berbelanja, saya juga harus mencuci dan menyetrika pakaian. Jasa loundry sangat jarang ditemukan disini, pun jika ada, harganya luar biasa mahal, karena orang Belanda umumnya hanya menggunakan jasa ini untuk mencuci jas dan gaun pesta. Berbeda dengan loundry, agen yang menyediakan jasa bersih-bersih rumah cukup mudah ditemukan. Tetapi, biaya untuk membersihkan satu ruang saja bisa mencapai 50 euro atau sekitar 800.000 rupiah, wow! Alhasil, saya dan suami harus bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan rumah kami.

Sebenarnya, bisa saja saya abai pada pekerjaan-pekerjaan tersebut, tapi selalu ada rasa bersalah yang muncul ketika suami pergi ke kampus tanpa membawa bekal makan siang; ketika cucian atau setrikaan menumpuk di keranjang; dan ketika debu dibiarkan di sudut-sudut kamar. Tidak ada peran yang mudah rupanya, ketika kita ingin menjalaninya dengan sebaik mungkin.

halte bus di dekat rumah kami saat musim dingin
Utrecht, Februari 2017
tipikal rumah di sudut-sudut kota
Utrecht, Maret 2017
menikmati makan siang di bawah pohon sakura
Utrecht, April 2017

menjadi pembelajar

Selain menjadi istri, saya juga menjadi seorang pembelajar. Selama empat bulan saya mengikuti kursus bahasa di Babel Taalen -- salah satu lembaga bahasa di Utrecht milik Utrecht University. Saya mengambil English Cambridge Class. Kelas memang hanya dilaksanakan sekali dalam seminggu yaitu pada hari Selasa pukul 8 malam sampai pukul 10 malam, tetapi tugas rumah yang harus dikerjakan luar biasa banyak. Saya menyiasatinya dengan menggunakan hari Minggu, Senin dan Selasa untuk fokus mengerjakan tugas dan belajar. Lalu, apa yang saya kerjakan di hari lain?

Hari-hari lain saya gunakan untuk mengerjakan tugas magang. Saya mendapat kesempatan bergabung pada sebuah proyek riset arsitektur heritage. Tugasnya memang tidak berat dan tidak rumit, tetapi cukup menyita waktu, tipikal pekerjaan di ranah arsitektur. Supervisor saya adalah senior saya di kampus dulu. Beliau sedang menjalani studi doktoral di Utrecht University. Kami memiliki interest yang sama pada bidang arsitektur heritage. Beliau memberi banyak info tentang symposium atau conference seputar arsitektur heritage yang akan berlangsung di Belanda. Beliau juga banyak memberi referensi bacaan pada saya.

Vila Isola Bandung karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker
pada Simposium Kolonial Arsitektur di Arnhem Belanda 

menjadi freelance arsitek

Ini adalah 'jabatan fungsional' yang paling saya suka -- menjadi freelance arsitek. Dulu, saya sempat menolak untuk ikut suami ke Belanda. Alasannya: saya takut tidak memiliki pekerjaan. Empat tahun menjadi mahasiswa arsitektur membuat saya hampir lupa nikmatnya waktu sisa. Terlebih setelah lulus, saya harus mempersiapkan urusan pernikahan sendiri, karena suami berada jauh di negeri seberang. Maka wajar jika perasaan insecure itu muncul. Tapi suami selalu mengingatkan bahwa pekerjaan tidak harus berupa kegiatan yang dibayar dengan uang. Uang hanyalah bonus dari Allah, yang terpenting adalah bekerja dengan ikhlas dan bahagia.

Mungkin ikhlas dan syukur saya tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Allah. Proyek tidak putus datang pada saya. Ada saja rekan atau kerabat yang membutuhkan jasa saya, dari mulai mendesain interior rumah sakit hingga mendesain rumah idaman mereka. Saya tidak mencari mereka, tetapi mereka yang atas petunjuk Allah datang pada saya. Mungkin ini yang orang bilang dijemput rezeki. Walau pendapatannya tidak banyak, tapi rasa puas membantu orang lain itu sungguh tak ternilai harganya.

proyek pertama selama di Belanda, proyek interior rumah sakit
Utrecht, Februari 2017
proyek pertama selama di Belanda, proyek interior rumah sakit
Utrecht, Februari 2017

menjadi bagian dari komunitas muslim Utrecht

Salah satu ketakutan terbesar saya ketika tahu akan tinggal di Eropa adalah: kesulitan menjalankan ibadah sebagai seorang muslim. Tapi ternyata ketakutan tersebut salah besar. Allah selalu punya cara untuk menjaga hamba-hambanya. Saya semakin percaya, mereka yang mendekat pada Allah tak akan pernah terlantar dan terbuang. Hidup di Eropa justru membuat saya semakin mencintai Islam, membuat saya semakin nyaman berada di lingkungan para pencari surga. Mengapa bisa begitu?

Rumah kami terletak sangat dekat dengan 'markas' Stitching Generasi Baru Utrecht (SGB) dan rumah-rumah warga muslim Indonesia lainnya. Setiap hari Rabu pagi, saya mengikuti kegiatan tahsin di rumah salah satu warga. Sedangkan setiap dua minggu sekali, saya mengikuti pengajian di SGB bersama mahasiswa dan warga. Subhanallah, bahkan di negeri ini, banyak orang muslim Indonesia yang ikhlas berdakwah dan berburu dakwah. Maka jika ditanya bagaimana rasanya menjadi muslin di Belanda, jawabannya, 'tergantung mau menjadi muslim yang seperti apa di Belanda?'

Suami saya juga terbilang cukup aktif dalam kepanitiaan kegiatan SGB. Pada musim semi lalu, Beliau menjadi panitia kegiatan Kalami (Kajian Islam Musim Semi). Alhasil, saya ikut membantu menjadi penitia bersama mahasiswa dan ibu-ibu lain. Selain itu, kami juga membantu dalam kepanitiaan Shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha dan Proyek Rumah Surga SGB. Apa itu Proyek Rumah Surga?

Proyek Rumah Surga adalah usaha penggalangan dana untuk membantu kami, mahasiswa dan warga muslim di Utrecht, supaya dapat memiliki masjid kami sendiri. Selama ini, kami hanya menyewa satu ruang kecil bekas minimarket untuk digunakan sebagai mushalla SGB dan Bina Dakwah. Ohya, Bina Dakwah adalah komunitas muslim Indonesia Belanda. Mayoritas anggotanya adalah pasangan muslim Indonesia-Belanda atau anak-anak dari pasangan campuran tersebut. Berbeda dengan kegiatan SGB, kegiatan Bina Dakwah menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar.

foto yang saya ambil untuk campaign Proyek Rumah Surga
Utrecht, April 2017
anak-anak Indonesia dan Indo-Belanda di TPA SGB
Utrecht, April 2017
panitia KALAMI 2017 bersama Ust. Salim A. Fillah
Rotterdam, Mei 2017

menjadi bagian dari persatuan pelajar Indonesia di Utrecht

Dengan status suami saya sebagai pelajar, tentu kami tidak dapat lepas dari kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia di Utrecht (PPIU). Suami saya tahun ini menjadi pengurus PPIU, tergabung dalam divisi keilmuan. Sedangkan saya, bersama mahasiswi dan istri-istri pelajar lain tergabung dalam PPIU Catering. Tugas kami tidak lain adalah memasak. Awalnya, kami hanya memasak untuk konsumsi kegiatan-kegiatan PPIU seperti seminar, kajian keilmuan, rapat kepengurusan dan lain-lain. Kemudian frekuensi memasak kami menjadi intense menjalang diselenggarakannya Utrecht Indonesian Day 2017. PPIU Catering menjadi bagian divisi dana usaha dengan menjual makanan khas Indonesia kepada para pelajar dan warga. Puncaknya, kami membuka Pre-Order untuk menu-menu kue kering Idul Fitri.

Utrecht Indonesian Day 2017 atau disingkat UID2017 adalah salah satu agenda tahunan PPIU. Misinya sederhana: memperkenalkan kebudayaan Indonesia di negeri Belanda dan mengobati rindu warga Indonesia yang telah lama menetap di Belanda. Pada UID2017 ini, saya dan suami mendapat amanah menjadi penanggungjawab (PJ) bazaar kuliner. Tugas kami sederhana, merekrut vendor-vendor yang akan mengisi bazaar kuliner dan menata layout area bazaar. Oleh karena saya seorang arsitek, saya mendapat tugas tambahan untuk membuat denah dan layout seluruh area UID2017. Kepuasan tersesar saya adalah ketika melihat dagangan ibu-ibu vendor laris manis dan mereka pulang dengan senyum bahagia.

PPIU menikmati Festival Bunga Sakura
Amersfoort, April 2017
farewell Felice, semoga foto miring ini mewakili kegilaan pose kami
Utrecht, Mei 2017

menjadi bagian dari group Primadona

Group Primadona adalah group yang saya bentuk bersama teman-teman saya di Utrecht (Mba Putri, Mba Datik, Mba Nisa dan Mba Arti). Group ini sudah berusia hampir satu tahun. Anggota group ini terdiri dari tiga istri mahasiswa dan dua istri warga Indonesia yang bekerja di Utrecht. Nama group ini diambil dari nama belakang salah seorang anggota group: Arti Primadona. Awalnya, group ini terbentuk dari kegemaran kami bermain media sosial Path. Namun saat ini, hanya tiga dari anggota group yang masih menggunakan Path. Saya dan Mba Putri memutuskan untuk menonaktifkan Path kami beberapa bulan lalu.

Saya beruntung bisa berkenalan dengan mereka. Saya banyak belajar dari mereka baik tentang hal-hal umum seputar urusan rumah tangga seperti resep masakan sampai hal-hal khusus seputar tips dan trik hidup berumahtangga di Belanda. Apakah beda berumahtangga di Belanda dan di Indonesia? Mungkin banyak hal tidak berbeda, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa disamakan terutama perihal mengantisipasi biaya hidup yang sangat mahal dan minimnya ketersediaan bahan makanan untuk masakan khas Indonesia. Mereka juga teman belanja dan main idola saya. Selain mereka berempat, saya juga dekat dengan mahasiswa, istri mahasiswa dan warga Indonesia lainnya. Mereka mengajari saya banyak hal mulai dari demo membuat cheesecake (Mba Ari) sampai cara membuat donat kentang (Mba Tiana). Mba Ross banyak mengajari saya cara berlibur yang minim biaya. Mba Lian menjadi teman diskusi idola saya. Saya merasa beruntung dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.

cikal bakal Group Primadona
Den Haag, Mei 2017
group Primadona dan ibu-ibu SGB pada bazaar Idul Fitri
Utrecht, Juni 2017

***
Mungkin tidak banyak peran yang saya emban selama di Belanda. Tetapi saya mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Bisa saja saya abai pada tanggung jawab sekunder saya di lingkungan sosial. Tetapi mengutip kalimat Goenawan Mohamad, "kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial". Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat?

hadiah dari Nasyifa dan Siraj saat KALAMI 2017
Rotterdam, Mei 2017
hadiah Idul Fitri dari Afina
Utrecht, Juni 2017